• Sabtu, 19 Juni 2021

COFFEE MONDAY

Sarana Curhatan dan Cerita Sukses UMKM

Sarana Curhatan dan Cerita Sukses UMKM AdministratorIntan Para Peserta bersama Para Narasumber Kegiatan Coffe Monday

KADINBANDUNG.COM Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Bandung, Iwa Gartiwa, memberikan arahan  kepada para pelaku UMKM agar tidak patah semangat dalam menghadapi kondisi sekarang, apalagi dengan adanya aturan pelarangan mudik pada lebaran tahun 2021 ini,  banyak para pengusaha terutama di bidang fashoin yang telpon menghubungi saya, mereka merasa sedikit kecewa karena biasanya pesanan baju untuk mudik lebaran paling tidak untuk keperluan satu minggu di kampung halaman, tapi dengan tidak mudik, hanya cukup satu baju baru yang mereka kenakan, otomatis orderan pakaian untuk lebaran kali ini juga ikut menurun, ungkap Iwa Gartiwa. Jadi sebenarnya faktor-faktor bisnis  itu tidak terlepas dari faktor-faktor kebjikan pemerintah atau  politik, hal ini disampaikan Iwa dalam acara “Coffee Monday” episode 40 pada hari Senin, 29 Maret 2021, di Aula Graha KADIN Kota Bandung, Jalan Talaga Bodas No. 31 Kota Bandung, dengan menghadirkan para Narasumber, Wakil Ketua Bidang UMKM dan Kemitraan Kadin Kota Bandung, Bambang Tris Bintoro, Komite Tetap Waralaba dan Kemitraan Kadin Kota Bandung, Bhakti Desta Alamsyah, Pengusaha Anggota Kadin Kota Bandung, Herry C. Utomo , dan Ifa Shahrash dari Bank BJB.

“Walaupun lebaran tahun ini tidak ada mudik, mudah-mudahan para pengusaha tetap bertahan,  dan bisa mensiasati menjelang puasa dan lebaran,  dengan terus menggali kreativitas dan inovatif agar bisnis tetap jalan, dan kita saling membeli produk-produk diantara kita, jangan produk luar”, ujar Iwa.

Dikatakan Iwa bahwa kegiatan seperti Coffee Monday ini merupakan salah satu   model dari KADIN Kota Bandung, kira-kira kebijakan apa dari pemerintah daerah kedepan untuk pemulihan ekonomi di Kota Bandung.  Kebetulan KADIN Kota Bandung juga sebagai Tim Satgas Pemulihan Ekonomi Kota Bandung, sampai saat ini belum bisa bergerak secara maksimal, bersama berdiskusi dengan Walikota Bandung masih mencari rule model untuk pemulihan ekonomi ini.

Iwa Gartiwa, MM. bersama Para Narasumber Kegiatan Coffee Monday

Sedangkan untuk masalah Dana Pinjaman Bergulir dari LPDB, Iwa meminta semuanya berdoa agar semua berjalan lancar sesuai yang diharapkan oleh para UMKM dan Koperasi, dan mudah-mudahan KADIN Kota Bandung diberikan peluang-peluang yang lebih besar lag, tutur Iwa.

Iwa menyampaikan agar didalam pandemi ini pera pengusaha kerjanya harus cepat, semangat , cerdas, dan ikklas dalam menjalin semuanya.

Sementara Herry C. Utomo sebagai pengusaha yang baru bergabung menjadi Anggota  KADIN kota Bandung pada bulan Januari 2021menyampaikan manfaat yang dirasakannya setelah menjadi anggota KADIN, perusahaan yang dikelola  ada 3 cor bisnis, yaitu pertanian, perikanan (tambak udang) dan property.   Untuk pertanian kita mendapat pekerjaan untuk mensupply gabah dan beras ke bulog, untuk perikanan tambak udang kita juga dapat pesanan ekport, dan untuk property mendapat pekerjaan dalam penyediaan property PT. KAI, ungkap Herry.

Menurut Herry, KADIN sebagai wadah pengusaha yang memang jaringannya luas, kami mendapat jaringan /networking dan market baik dengan pengusaha dalam negeri dan juga pengusaha dari  luar negeri.  Salah satunya kerjasama dengan KADIN Jepara, dalam hal tambak udang.  Disamping itu  kita juga mendapat kesempatan dipertemukan dengan Presiden dalam kerjasama Kadin Indonesia dengan pengusaha dari Timur Tengah, alhamdulilah, kami ekspor udang  ke Timur Tengah.  Dalam ekportir itu ada hulu, tengah dan hlilir, sebagai eksportir perusahaan kami ada di tengah sebagi agregator, dan kami fokus di UKM.  untuk itu bagi para pelaku UMKM selamat bergabung dan sukses di KADIN, ujar Herry.

Pertanyaan yang mengemuka dari beberapa peserta mengenai bisnis yang mereka jalankan, yaitu dari Baizis “Cireng Gendut”  tentang bagaimana agar produk UMKM mudah dikenal di masyarakat tanpa terkendala dalam branding produk, belum menciptakan brand, merek belum dilegalkan, kemudian dari Riani “Teh Uyup” yang bertanya  adakah program pemerintah yang menggratiskan pendaftaran legalitas brand.  Selanjutnya Bentar Bara yang bergerak di usaha Barber shop dan menanyakan usaha di bidang jassa barbershop apakah ada akses permodalan untuk usaha barbershop, apa persyaratannya dan apakah barbershop di Bandung sudah punya koperasi. Sedangkan Linda Kaniawati “Cistik Cilin” mengajukan pertanyaan setelah produk dilempar ke pasaran, bagaimana mempromosikannya.

Para Peserta Kegiatan Coffee Monday

Sejalan dengan itu menurut Bhakti Desta Alamsyah,  produk UMKM agar dikenal, sama halnya seperti prosesi kelahiran seorang anak, kita memberikan nama  kita pilih nama yang terbaik, agar kita mendoakan lahirnya ini dengan sebuah harapan, sama dengan produk atau karya kita pun tentunya dengan harapan agar produk itu menjadi sesuatu kelak, kemudian apa gunanya kita mengurus pendataannya anak kita dengan akte kelahiran, agar diketahui bahwa dia adalah anak kita, lebih dari itu untuk melindungi dia, sama dengan merek produk,  setelah merek produk didaftarkan, kemudian kita memberikan pendidikan yang layak yang baik, setelah cukupmendapat pendidikan produk terseut siap go publik.   jadi perlakuan kita terhadap produk  sama dengan perlakuan kita kepada anak kita, peralkkan produk kita dengan layak, dengan sebaik-baiknya , tutur  Desta.

“Soal bayar tidak berbayar bukan alasan, harusnya pengusaha mempunyai kesadaran untuk mendaftarkan produknya atau merek produknya ke Disbudpar sehingga tidak terjadi  seperti halnya kasus Batagor Isan, Ayam Geprek Bensu dan Angklung Udjo yang tidak didaftarkan oleh pemilik aslinya, sehingga akhirnya didaftarkan oleh orang lain bahkan nergara lain, sehingga keuntunagn diperoleh oleh pihak yang mendaftarkannya secara legal walaupun sebenarnya dia bukan yang pemilik merek produk tersebut, jelas Desta. 

Editor: Laras Lestari

Bagikan melalui:

Komentar