• Sabtu, 19 Juni 2021

PEDULI UMKM, KADIN KOTA BANDUNG DAN UNIVERSITAS PARAHYANGAN GELAR PELATIHAN

PELATIHAN KEMASAN DAN DIGITAL MARKETING PRODUK UNTUK UMKM MAKANAN DAN MINUMAN

PELATIHAN KEMASAN DAN DIGITAL MARKETING PRODUK UNTUK UMKM MAKANAN DAN MINUMAN AdministratorIntan Devriani Iwa Gartiwa, M.M. Bersama Para Narasumber Pelatihan Kemasan dan Digital Marketing Produk untuk UMKM Makanan dan Minuman

KADINBANDUNG.COM Desain kemasan memilki kemampuan untuk  mempengaruhi  konsumen, didukung dengan pemasaran berbasis online atau digital marketing membuka berbagai peluang dan tantangan bagi  pelaku UMKM di tengah pandemi covid-19 ini. 

Untuk itu Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Bandung bekerjasma dengan Teknik Industri Universitas Parahyangan (UNPAR) menggelar acara Pelatihan Kemasan dan Digital Marketing Produk untuk UMKM Makanan dan Minuman, Selasa, 6 April 2021, bertempat di Aula Graha KADIN Kota Bandung, Jalan Talaga Bodas No. 31 Kota Bandung. Acara dihadiri oleh 29 pelaku UMKM Produk Makanan dan Minuman di Kota Bandung. Sebagai Keynote speaker, Ketua KADIN Kota Bandung, Iwa Gartiwa, serta pembicara dari UNPAR, Catharina Badra N, Yogi Yusuf Wibisono, Yansen Theopilus dan Clara Theresia, juga Wakil Ketua Bidang UMKM dan Kemitraan KADIN Kota Bandung, Bambang Tris Bintoro, Komite Tetap Waralaba dan Kemitraan, Bhakti Desta Alamsyah, serta Komite Tetap Koperasi, Moch. Gerry Garkiyana.

Ketua Kadin Kota Bandung Iwa Gartiwa, M.M Membuka Acara Pelatihan Kemasan dan Digital Marketing Produk untuk UMKM Makanan dan Minuman 

Hadir membuka acara Ketua KADIN Kota Bandung, Iwa Gartiwa dalam sambutannya mengapresiasii kegiatan ini walaupun dilakukan di tengah masa pandemi Covid-19. Iwa menyampaikan rasa gembira acara pelatihan packaging dan digital marketing kerjasama KADIN Kota Bandung dengan UNPAR ini bisa terlaksana, karena ini yang menjadi salah satu problem di UMKM terutama permasalahan kemasan dan digital marketing. “Kita tahu bahwa salah satu produk yang pertama kali dilihat itu adalah kemasannya dulu, baru rasa”, ujar Iwa Gartiwa.

Seperti dituturkan Iwa, ada kisah yang menarik pada saat dirinya sebagai  Ketua Kadin Kota Bandung, bersama Ridwan Kamil yang pada saat itu menjabat sebagai Walikota Bandung pergi ke Jepang dalam forum resmi, disana diberi makanan dalam kemasan yang sangat menarik, dan isi didalamnya ternyata ada makanan seperti opak, rengginang, teng-teng dan kremes kecil-kecil, ini makanan lembur semua, makanan tradional, ujar Iwa, tapi kemasannya dibuat sangat bagus, dan itu disuguhkan resmi di Jepang. Ini salah satu yang sebetulnya memotivasi kita jangan dianggap sepele masalah kemasan ini”, tambah Iwa .

Dengan pelatihan kemasan dan digital marketing produk UMKM makanan dan minuman ini kita harapkan UMKM-UMKM di Kota Bandung semakin berkembang dan maju, dan kepada UNPAR juga kita harapkan jangan bosan untuk berbagi ilmu dengan UMKM.  Di Bandung ini banyak yang butuh pelatihan-pelatihan seperti ini, tutur Iwa.

Dikatakan pula oleh Iwa produk Bandung ini dari segi rasa sudah tidak asing lagi, untuk seluruh daerah di  Indonesia, kuliner Bandung ini terkenal paling bagus. Mudah-mudahan secepatnya  dari segi digital marketingnya juga produk UMKM Bandung ini didorong, karena sekarang itu kecenderungannya usaha yang berkembang adalah usaha yang mengikuti digital, itu yang terjadi saat ini, jelas Iwa.  

Iwa Gartiwa  juga menyampaikan terima kasih kepada UNPAR atas kerjasamanya, dan berharap UNPAR tambah jaya, tambah eksis dan bersama KADIN Kota Bandung kita  punya kepedulian yang lebih lagi bagi UMKM di Kota Bandung, ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama mewakili Teknik Industri UNPAR, Yansen Theopilus mengatakan pada prinsifnya UNPAR  selalu ingin membantu UMKM-UMKM khususnya di Jawa Barat dan KADIN Kota Bandung untuk bisa berkembang bersama.

Para Narasumber sedang Memberikan Materi Kepada Para Peserta Pelathan Mengenai Pelatihan Kemasan dan Digital Marketing Produk untuk UMKM Makanan dan Minuman

“Kami dari jurusan Teknik Industri UNPAR memang punya bidang ekspertis atau bidang pelatihan untuk bisa membantu industri-industri mulai dari industri kecil sampai industri besar, mulai dari yang kecil sampai menjadi  menjadi besar. Dikatakannya dalam kesempatan ini kita akan membantu UMKM , supaya kita maju bersama terutama di masa pandemi ini”, ujar Yansen.

Diterangnya pada kegiatan ini disampaikan dua topik, yaitu kemasan dan digital marketing sebelumnya kami juga sudah melakukan pelatihan UMKM melalui jalur KADIN Kota Bandung dan melalui jalur lainnya, dan kami melihat bahwa kalau berbicara makanan minuman,  sebenarnya dalam rasa UMKM tidak kalah dengan industri-industri besar, namun problemnya dalam dua aspek yang kami tekankan disini yaitu kemasan. Makanan dan minuman yang dijual oleh industri yang berkembang pasti mempunyai kemasan yang baik, itu ciri-cirinya, tidak  mungkin kemasannya jelek, untuk itu kita ingin maju bersama, bertolak dari keberanian mengenai bagaimana membuat kemasan yang baik, dan yang kedua,  dimasa pandemi ini kita tahu e-commerce berkembang pesat, yang biasanya kita jualan di pasar dan lainnya, karena banyaknya pembatasan akhirnya kita masuk ke pasar online, pasar online sangat luas, tadinya kita memasarkan ke orang-orang sekitar kita, akhirnya kita memasarkan se-Indonesia bahkan sedunia.   Maka dari itulah kami juga membawakan topic digital marketing, ujar Yansen.

Sementara Bambang Tris Bintoro, mengatkan bahwa melalui pelatihan ini akan belajar bersama, dan dalam pembelajaran ini UMKM bisa mengaplikasikan dalam bisnisnya, kemudian yang terpenting adalah proses pembelajaran tidak boleh berakhir, artinya sesuai dengan kesepakatan dengan UNPAR,  akan ada kelanjutannya berupa  kegiatan di semacam Coaching clinic, nanti UMKM bisa memilih siapa mentornya, konsultasi bisa secara online, kalau memang umkm  ingin secara tatap muka langsung, syaratnya tidak bisa terlala banyak, paling 3-6 orang, bisa dilakukan di KADN Kota Bandung atau di UUNPAR, jika di UNPAR tidak memungkinkan offline, maka diskusi dilakukan secara online, ujar Bintoro.

Pada acara pelatihan ini Bintorro mengatakan bahwa Ketua KADIN Kota Bandung  selalu menyarankan bahwa KADIN Kota Bandung harus selalu disosialisasikan, banyak umkm yang belum tahu, menyangka KADIN itu pemerintah. Dikatakan Bintoro bahwa  Kadin bukan pemerintah, KADIN adalah sebuah lembaga, organisasi, induknya dunia usaha, dalam arti Kadin adalah wadahnya para pengusaha. KADIN lahir pada tahun 1988, sekarang usia KADIN sudah 64 tahun,  waktu itu ketika KADIN akan didirikan, mengsyaratkan ketika itu Indonesia akan bergabung di WTO (World Trade Organisation), sebuah organisasi yang interaksinya adalah antar negara seluruh dunia, dimana ketika setiap negara yang tergabung di WTO, itu disyaratkan agar memiliki KADIN,  jadi baik itu KADIN tingkat nasional, KADIN Provinsi maupun KADIN Kabupaten Kota. Hal ini yang mendorong   bagaimana kerjasama KADIN dengan dunia usaha yang ada di luar negeri,   terutama dari sektor industri dan perdagangan.

Lebih lanjut Bintoro mengatakan Kadin bukan pemerintah tapi kita mitra strategis pemerintah, dimana selalu sejalan antara pemerintah dan dunia usaha.  Kadin sendiri mempunyai 3 anggota. yang  pertama adalah anggota luar biasa, dimana anggota luar biasa terdiri dari asosiasi-asosiasi, himpunan, perkumpulan, seperti APRINDO, APINDO, ASPERINDO, HIPMI.  Yang kedua adalah perusahaan-perusahaan, baik perusahaan swasta, perusahaan perseorangan seperti PT.CV. Firma, Koperasi, kemudain juga BUMN dan BUMD, seperti PT. LEN, PT. PINDAD, PT. Bofarma yang ada di Kota Bandung, mereka adalah anggota KADIN, termasuk perusahaan-perusahaan, yang terakhir adalah Anggota KADIN Tercatat, ini saya harapkan untuk UMKM dapat bergabung,  dan bagi UMKM yang akan mendaftarkan menjadi Angggota KADIN tercatat silahkan datang ke KADIN Kota Bandung, kita akan buatkan bagi yang minat,sekaligus  pembuatn NIB nya juga, kemudain secara langsung maka UMKM menjadi anggota KADIN, yang aksesnya bisa Jawa Barat dan Indonesia. Ini merupakan kebijakan dari Ketua Kadin Kota Bandung, Iwa Gartiwa, karena di tempat lain sulit, dan alhamdulillah sampai saat ini Kadin Kota Bandung menjadi KADIN percontohan nasional, ujar Bintoro.  

Menurut Bintoro, Kalau melihat kedaerah, karena saya sering ke daerah, sering mengatakan bahwa KADIN itu ekslusif, ternyata di Bandung tidak, bahkan semenjak Ketua Kadin Kota Bandung, Iwa Gartiwa pertama berkiprah di KADIN sampai sekarang sudah 25 tahun, KADIN Kota Bandung selalu terbuka buat para pengusaha siapapun, dan sekarang kita sudah konsen kepada UMKM, apalagi sekarang dalam keadaan pandemi covid, kita  ada konsultasi, inkubasi bisnis dan kaitannya denga pelatihan. 

Para Peserta bersama Para Narasumber Pelatihan Kemasan dan Digital Marketing Produk untuk UMKM Makanan dan Minuman 

Dikatakan Bintoro, Kadin  Kota Bandung merupakan KADiN yang paling nekad se-Indonesia, di masa pandemi covid ini kita tetap mengadakan pelatihan-pelatihan,  dengan protokol kesehatan yang ketat, karena kita berpikir UMKM itu resah, butuh tempat curhat, minimal menambahan ilmu. Bagi KADIN, apa yang bisa dilakukan oleh KADIN, kita lakukan semua. Untuk pendaftaran  keanggotaan KADIN Tercatat  bisa menghubungi Nonon,  dan  insya Allah kami akan mencoba nanti membuat sebuah draft dimana UMKM dan lainnya bisa terlibat di Kadin secara langsung. Lebih lanjut ujar Bintoro, harapan Iwa Gartiwa bahwa kalau ada pelaku usaha dari mulai super mikro, mikro, kecil, menengah sampai besar, jadikanlah KADIN ini sebagi rumah bersama para pengusaha.

Menyangkut packaging,  Bintoro mengingatkan, selain packaging produknya juga harus kuat, kalu sudah kuat maka produknya punya daya saing, ketika daya saing yang kita lihat dalah dari varian produknya, inovasinya dan lain-lain, karena tanpa itu kita digilas oleh pesaing-pesaing kita yang sekarang jumlahnya jutaan, karena pasar global sekarang sudah tembus wilayah, artinya persaingan tergadai-gadai, tapi jangan takut bahwa produk kita itu tidak kalah, saya ke malaysia dulu pernah  keliling, produk Bandung ini keren-keren. Jadi produknya tetap harus kuat, ditambah packagingnya, artinya didalam packaging itu ada labeling.

Harapan saya yang sering disampaikan, kalau akan bikin  packaging, cari orang yang ahlinya, supaya bagus, karena packaging sendiri berkaitan denganmereknya, kemudian pewarnaannya, matching tidaknya dengan produknya, jadi secara psikologis saya sering mengatakan bahwa Packaging itu harus bunyi, harus bisa bercerita. Orang hanya dengan melihat suatu pacakging sudah paham/mengerti. Jadi packaging bisa mengkomunikasikan produk dengan konsumen, kemudian brandnya.  untuk brand bisa daftar ke Dinas kebudayaan dan pariwisata itu ada hal-hal yang berkaitan dengan fasilitasi  untuk brand, tapi program pemerintah kan terbatas, kalau saya menyarankan kalau punya duit daftarkan saja sendiri , minta surat, hanya sekitar 600 ribu, tapi sudah dilindungi merek kita, minimal didaftarakan walupun nanti ada kemungkinan ditolak, kadang-kadang ada yang ditolak, tidak apa-apa, yang penting kita punya surat untuk didaftarkan.   

Terakhir adalah masalah branding, yang berkaitan denga tema pelatihan ini, menrut Bintoro,  karena branding itu penting sekali, personal branding maupun coorporate branding, dimana era sekarang adalah era kompetetisi, era  merebut pasar, empal itu hal harus diperhatikan yaitu produk, packaginngnya, brand dan branding.

Selanjutnya Bintoro mengungkapkan hal-hal yang berkaitan dengan pemasaran,  KADIN tidak berjanji banyak tapi kami sudah bicara dengan Ketua Kadin Kota Bandung, Iwa Gartiwa, dan beliau setuju, asal untuk UMKMUMKM maju, beliau akan tersenyum, senang, ujar Bintoro 

“Kabar gembira yang ingin disampaikan adalah berhubungan dengan salah satu perusahaan yang mempunyai toko di beberapa rest area, rest areanya masih perlu dicek lagi, rest areanya Jakarta –Merak, berkaitan dengan keinginan mereka untuk bisa produk-produk umkm  masuk kesana, kita juga kan pilih-pilih tempat, kalau nanti tempatnya tidak  ramai juga masalah.

Masih Bintoro, menyampaikan, kita juga sudah komunikasi  dengan manager Kunafe, Herri, akan mengadakan acara temu bisnis di KADIN, bahkan dengan pengusaha dari Yogya,  Anton, doakan saja  pada saatnya kita akan mengadakan yang namanya bisnis matching, kecil-kecilan, kalau pemerintah ada dananya, kita  ga ada dana, karena KADIN Kota Bandung mandiri, tanpa bantuan pemerintah menyelenggarakan kegiatan seperti Coffee Monday dan Kamis Manis Ngobrol Bisnis, Kita juga sudah bicara dengan Sekretaris Dewan Senat ITB , Wawan  Dewanto, beliau siap berbagi dengan mengisi  menjadi narasumber untuk kegiatan bagi UMKM. Disamping juga ada temen-temen yang punya ilmu, masih anak muda, punya ilmu digital marketing, dia bahkan menawarkan diri, dan menyatakan bersedia berbagi ilmu dengan temen temen yang ada di Kadin, ini yang harus kita lakukan, ujar Bintoro.

Para Peserta Pelatihan Kemasan dan Digital Marketing Produk untuk UMKM Makanan dan Minuman 

“Atas saran Ketua Kadin Kota Bandung, kita akan  mengorganisi, semua orang-orang yang mempunyai kemampuan baik dari pergurun tinggi maupun pelaku usaha untuk terus bisa berbagi dengan umkm, dan doakan ini bisa terjadi, tapi dengan cara kami, maksudnya, kalau dengan pemerintah kan gede-gedean  di hotel acaranya, mewah, kita yang penting terjadi deal dengan perusahaan-perusahaan besar,  bahwa temen-temen bisa kerjasama, terjadi ikatan, dalam arti kita bisa mengawin-kawinkan umkm dengan beberapa pelaku usaha menengah dan besar, ini harapan kami, kita berdoa semoga pak iwa sehat selalu, orang yang terus keliling, supaya terus membantu umkm melalui wadahnya KADIN, pungkas Bintoro.

Sementara pembicara dari Teknik Industri UNPAR, Catharina Badra N, Yogi Yusuf Wibisono, Yansen Theopilus dan Clara Theresia menyampaikan materi tentang Fungsi dan Jenis Kemasan Makanan dan Minuman, Perancangan Konten Kemasan Mamin, Memahami Perjalanan Konsumen dan Perancangan Media dan Konten Digital Marketing.

Editor: Laras Lestari

Bagikan melalui:

Komentar