• Jumat, 26 Februari 2021

Program Pemulihan Ekonomi Kota Bandung

LPDB-KUMKM dan Kejari Bandung Gandeng Kadin Bandung Pembiayaan Koperasi dan UMKM

LPDB-KUMKM dan Kejari Bandung Gandeng Kadin Bandung Pembiayaan Koperasi dan UMKM Asep Ruslan Ketua Kadin Kota Bandung, Iwa Gartiwa yang juga Wakil Ketua Pelaksana Harian Satgas Pemulihan Ekonomi Kota Bandung

Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM) dan Kejaksaan Negeri Kota Bandung menggandeng Kadin Kota Bandung dalam pinjaman/pembiayaan Koperasi dan UMKM sektor riil (primer/sekunder) untuk pemulihan ekonomi kota Bandung.

KADIBANDUNG.COM - Kelanjutan dari program Gerakan Ekonomi Bandung Bangkit (GEBB) 2020, maka di awal 2021 ini Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Bandung kembali menyelenggarakan acara Kamis Manis Ngobrol Bisnis, acara rutin hari Kamis yang berisikan edukasi berbagai aspek usaha bagi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19 dengan penerapan 3M, selalu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun di air yang mengalir dan menjaga jarak dengan disponsori oleh Asosiasi Perusahaan Jasa Boga Indonesia (APJI). Acara Kamis Manis Ngobrol Bisnis kembali digelar dengan tema “Bikin Bisnis Yuk” dimaksudkan agar peserta mulai  berbisnis dan mempunyai pengetahuan dasar mengenai bisnis yang harus dikuasai serta melakukan kreatifitas dan inovasi dalam mengembangkan bisnisnya, di Graha Kadin Kota Bandung Jalan Talaga Bodas No. 31 Kota Bandung, Kamis (14/1/2021).

Tema Kamis Manis Ngobrol Bisnis ‘Bikin Bisnis Yuk’ (Foto: Asep Ruslan)

Sebagai narasumber Ketua Kadin Kota Bandung, Ir. Iwa Gartiwa, MM., Wakil Ketua Kadin Bidang UMKM, Koperasi, Kemitraan dan Lisensi, Bambang Tris Bintoro, Komite Tetap Waralaba dan Kemitraan Kadin juga CEO PT. BestBrand, Bhakti Desta Alamsyah, Akademisi dan pengurus APJI Jawa Barat, Dr. Teja Adriansyah Anwar, Sip, MSc.  dan Ibu Tetty dari PT. Biovita. Dihadiri juga oleh Ketua APJI Kota Bandung sekaligus pengurus Kadin Kota Bandung, Kania Devi, MM.  

Selain itu untuk Kamis Manis Ngobrol Bisnis kali ini, Kadin Kota Bandung mengundang Kepala Seksi Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara Kejaksaan Negeri Kota Bandung,  DR. Hardiansyah, SH. MH., M.I.Pol untuk memberikan penjelasan tentang Program Pemulihan Ekonomi  Nasional / Kota Bandung 2021.  

Peserta Kamis Manis Ngobrol Bisnis (Foto: Asep Ruslan)

Sebanyak 20 peserta yang datang dari berbagai wilayah di Kota Bandung dan beberapa komunitas usaha (IPEMI, APJI, Brigade 08, PT. Biovita, dll.) diarahkah untuk saling memfollow  medsos antar peserta (IG, FB, dll) untuk menambah jaringan pemasaran produk masing-masing sesuai dengan tagline yang sosialisasikan oleh Kadin Kota Bandung, yaitu “Saling membeli, Saling memasarkan dan Saling mendukung Produk UMKM”. Disamping itu dikenalkan juga berbagai media Kadin Kota Bandung yang sudah diluncurkan seperti, Kadin Bandung TV, Channel Youtube Kadin Bandung, IG Kadin Bandung, Facebook Kadin Bandung, Website kadinbandung.or.id, media online kadinbandung.com  dan Majalah Entrepreneur Kadin Kota Bandung dalam bentuk cetak dan e-paper.

Majalah Entrepreneur Kadin Kota Bandung edisi terbaru dengan cover Ketua Kadin Indonesia Rosan P. Roeslani (Foto: Asep Ruslan)

Susunan Redaksi dan alamat Medsos Media Kadin Kota Bandung (Foto: Asep Ruslan)

Ketua APJI Kota Bandung, Kania Devi berterima kasih kepada Ketua Kadin Kota Bandung yang selama ini telah mendukung UMKM dengan memberikan berbagai pelatihan dalam kegiatan Kamis Manis Ngobrol Bisnis yang sudah berlangsung cukup lama.  Banyak ilmu yang diserap  oleh UMKM , khususnya oleh anggota APJI. 

“Banyak sekali ilmu dan informasi yang berguna buat UMKM.  Mudah-mudahan acara ini terus berlangsung dan kedepannya akan lebih baik dan lebih bermanfaat bagi kita semua,” kata Kania Devi Ketua APJI Kota Bandung dalam sambutannya.

Membuka acara Kamis Manis Ngobrol Bisnis, Iwa Gartiwa dalam sambutannya dihadapan para peserta menjelaskan.

“Kadin adalah produk Undang-undang yang mewadahi para pengusaha,  anggota Kadin adalah BUMN, perusahaan negara, perusahaan swasta termasuk juga  koperasi. BUMN seperti PT LEN, PT. Biofarma, PT. PINDAD, dan lain-lain adalah anggota Kadin aktif.  Kalau dulu yang kita urus lebih banyak  perusahaan-perusahaan  besar, sekarang kita ingin fokus untuk mengurus UMKM, karena UMKM  menyerap 90 persen lebih ekonomi negara, harapan kita pemerintah mempunyai keberpihakan kepada UMKM. Untuk itu UMKM harus tetap semangat, pandemi covid-19 ini anggap sebagai cobaan, pasti akan ada hikmahnya, berpikiran positif, yakin, jaga silaturahmi, berjejaring, belajar dan belajar terus,  pasti akan berhasil,” ujar Iwa Gartiwa.

Narasumber Bhakti Desta Alamsyah memberikan materi pelatihan tentang  perbedaan pedagang dan pengusaha.

“Yang namanya pedagang itu sebagian besar fokus untuk mengumpulkan uang, semua kerjaan dikerjaan sendiri mulai dari ngecek barang, ngitung uang, nego dengan supplier dan lain-lain. Yang jadi pemeran utamanya adalah pedagang itu sendiri, kelancaran bisnisnya tergantung dari usahanya sendiri, bisnisnya mengikuti trend yang ada dan mencari keuntungan dari trend yang lagi happening. Lebih bertindak menghindari resiko, karena lebih menghitung laba dan rugi, berpikiran yang penting untung apa-apa saja dijual. Penghasilan yang diterima berdasarkan apa yang dikerjakannya sehari, jarang melakukan libur karena ketika libur, maka ia tidak mendapatkan penghasilan. Membeli barang lalu menjualnya kembali  sehingga menghasilkan untung. Kadang jadi pemarah, tidak membangun mental solusi, tidak menyadari dunia bisa berputar, egosentris. waktu milik pedagang digunakan untuk mengawasi bisnisnya yang sangat banyak sampai ia lupa untuk membangun silaturahmi dengan teman, keluarga atau membangun hubungan dengan relasi, yang dipikirkannya hanyalah omzet. Menganggap konsumen adalah yang akan memberikan dia uang, oleh sebab itu seorang pedagang akan berusaha “merebut” uang sebanyak-banyaknya dengan cara meningkatkan harga. Sehingga terjadilah proses tawar-menawar, semua pedagang memiliki pola pikir hidup untuk cari uang, hidup untuk bisnis,” kata Desta.  

“Sedangkan seorang pengusaha, mereka lebih fokus untuk membuat sistem yang memuluskan usahanya, kerjaannya simple, cuma mengawasi kinerja karyawannya. Lebih mengandalkan pada kerja tim dari karyawannya. Dia pasti pernah jadi pengusaha, menciptakan trend sendiri, tidak memperdulikan akan resiko, kalau sukses ya sukses besar, kalau gagal ya sudah dicoba lagi. Lebih memilih untuk mencari ide baru atau mencari solusi dari permasalahan yang ada. Penghasilannya dapat diketahui pada masa yang akan datang. Jika berhasil dapat keuntungan yang besar, semacam deposito. Libur kapan saja boleh karena sistem usahanya sudah berjalan dengan baik. Menciptakan atau memodifikasi yang ada untuk menghasilkan sesuatu yang kreatif dan berguna serta memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Membangun mental, mengingat asal, jatuh bangun lagi, bersedia berbagi dan berfikir jangka panjang dengan stakeholder; waktu untuk mengawasi bisnisnya sedikit, karena sudah ditake-over oleh sistem. Yang dipikirkannya adalah aset, asetnya terus berkembang dan bisnisnya semakin besar. Menjaga hubungan baik denagn konsumennya, dengan harapan konsumen puas dan menjadi pelanggan setianya, memikirkan dan menjaga keseimbangan kehidupan, hidup bukan hanya untuk mencari uang,” ujarnya.

“Kita  jangan mau seumur-umur hanya menjadi pedagang, tapi harus naik level menjadi seorang pengusaha,” pungkas Desta.

Berbekal pengalaman sebagai akademisi dan seorang pengusaha, Dr. Teja Adriansyah Anwar, Sip, MSc., sharing strateginya dalam mengembangkan bisnis berdasarkan pengalamannya selama  menjadi dosen di kampus Widyatama kepada peserta.

Peserta Kamis Manis Ngobrol Bisnis (Foto: Asep Ruslan)

“Sebagai dosen, target market saya adalah mahasiswa saya, saya bikin usaha coffee shop ,  wedding organizer  dan education, tujuannya buat hangout tempat ngumpul-ngumpul mahasiswa-mahasiwa saya. Sedangkan WO adalah planning jangka panjang saya, karena mahasiswa/mahasiswi saya 5 tahun kedepam mereka akan menikah dan pasti perlu WO, jadi saya tawarkan jasa WO saya ke mereka. Mereka sudah kenal saya, mereka percaya saya karena saya dosen mereka, dan mahasiswa  saya  biasanya akan merekomendasikan produk saya ke teman-teman mereka, jadi suatu keuntungan buat saya, kalau bermain di edukasi karena itu memang bidang saya,” tutur Teja.

Menurut Teja, mahasiswa saya adalah target potensial saya, saya dekat dengan mahasiswa-mahasiswi saya, saya berteman dengan mereka, nongkrong bareng mereka, mendengar curhatan mereka, biasanya kalau seumuran mahasiswa segan curhat sama orantuanya, mereka curhatnya malah ke saya, ngobrol tentang usaha, akhirnya biasanya mereka jadi punya usaha, saya suka diundang mereka, sering diendorse produk mereka dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dengan pendekatan seperti itu saya bisa lebih dekat dengan target market saya, dari situ saya dapat informasi apa sih yang dibutuhkan oleh konsusmen, bisa dengar langsung dari mereka sukanya apa, kalau hanya bagus menurut kita, belum tentu menurut orang lain, jadi sekaligus  sebagai analisa pasar dan test market.

“Kalau produk kita ingin laku harus beda dengan orang lain, harus unik, harus anti mainsteam, kalau ga unik ga akan laku, harus menonjol dari produk pesaing, disamping itu ga hanya jualan produknya saja, tapi juga kita buka jasanya, misalnya usaha sepatu,  kita juga buka jasa pencucian sepatunya atau maintenancenya, jadi ada nilai tambahnya,” ujarnya.

“Sebagai contoh berdasarkannya pengalaman, usaha coffee shop yang bertahan dan jalan sekarang ini adalah coffee shop yang berbasis komunitas, semuanya  sekarang memang harus dimulai dengan komunitas kalau usaha ingin berhasil, kemudian coba misal cek follower IG anak kita, manfaatkan itu, minta bantuan anak kita kalau memang kita masih gaptek, packaging produk harus bagus, promosikan lewat medsos (IG, FB, dll.), terus lakukan promosi sampai terbentuk brand, punya citra, dan itu ga bisa satu dua hari, berproses, dan harus berkomunitas, sekarang jamannnya kolaborasi, sudah ga jaman main sendiri-sendiri,” pungkasnya.

Hardiansyah, menyampaikan penjelasan tentang program pemulihan ekonomi nasional (Foto: Asep Ruslan)

Kemudian Kepala Seksi Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara Kejaksaan Negeri Kota Bandung,  DR. Hardiansyah, SH. MH., M.I.Pol menyampaikan penjelasan tentang program pemulihan ekonomi nasional.

“Saya kenal dengan Pak Iwa Ketua Kadin Kota Bandung ini baru hitungan jam tapi kita sudah klik untuk  bagaimana bisa memajukan  Koperasi dan UMKM, hari ini saya membawa misi yang besar dan pasti bermanfaat bagi UMKM dan Koperasi.  Misi ini bukan bullshits, bukan omongan sampah bukan cita-cita bukan angan-angan, tapi yang harus kita realisasikan, misinya adalah bagaimana peran Kejaksaan didalam mendukung pemulihan ekonomi nasional,” ujarnya.

“Kita harus bangkit, UMKM harus hidup di Kota Bandung dan harus jaya di tengah Kota Bandung. Saya dibebankan untuk menghabiskan uang ratusan miliar tahun ini di bulan ini juga untuk program pemulihan ekonomi Kota Bandung. Saya tanya pak Iwa, sanggup, tapi dengan catatan bukan untuk korupsi, bukan untuk yang aneh-aneh tapi untuk pemberdayaan UMKM dan Koperasi,” kata Hardiansyah.

Dijelaskan Hardiasyah uang ini akan disalurkan melalui koperasi, UMKM boleh pinjam sepuas-puasnya, segila-gilanya dan jangan tanggung.

“Jangan cuma bercita-cita pinjam hanya 50 juta, berarti UMKM hanya ingin ngambil duit, pulang ke rumah terus beli motor, bukan untuk usaha, kalau pinjamnya cuma segitu. Sekarang saya tantang Bapak dan Ibu bikin proposal, Selasa pagi (18/1/2021) saya disini (Red. di Graha Kadin kota Bandung), saya akan lihat proposal Bapak dan ibu, dan saya akan asistensi dari jam 08.00-10.00 WIB,” ujarnya.

“Sekarang tugas Bapak dan Ibu adalah menata usahanya, menggilakan usahanya, merubah usahanya menjadi bangkit, maju kedepan dengan angan-angan yang luar biasa, masuk jadi anggota koperasi yang punya frame usaha yang sama. Contoh usaha komoditi kopi, kemudian mereka gabungkan, ajukan pinjamnya ke LPDB.  Ini kita dikasih pengembalian 3 % per tahun dengan bunga menurun  sampai dengan 1,07 persen, bukan flat,” kata Hadiansyah.

“Jadi ini solusi besar untuk pengembangan usaha UMKM, catatannya bukan untuk beli emas, bukan untuk beli rumah, bukan untuk lain-lain, ini uang negara hasil bayar pajak masyarakat dan harus seluas-luasnya diberdayakan dan dipergunakan untuk masyarakat, ini yang harus kita selesaikan. LPDB sudah mempercayakan kepada kami sebagai pengacara negara, pokoknya kalau tidak didampingi jaksa, LPDB tidak mau,” tegasnya.  

“Presiden sudah menginstruksikan, mau tidak mau, suka tidak suka, kemudian mampu tidak mampu program pemulihan ekonomi nasional harus berjalan,  kalau kita terus berdebat dalam tatanan birokrasi akan susah direalisasikannya, makanya saya harus ketemu orang “gila” untuk menggilakan usahanya dan mensejahterakan masyarakat, kemudian saya sampaikan ke Pak Iwa, Pak Iwa kumpulkan  orang-orang “gila” dengan kita, dan saya ga butuh orang-orang yang berpikir standar dan biasa, dimana beli barang, mempacking barang, menjual, selesai, kelar usaha seperti itu,” ujarnya.

Lebih lanjut Hadiansyah mengatakan UMKM harus berinovasi, misal  buat keripik singkong kemudian kita jual dengan sistem  online, jadi kita tidak perlu toko offlline.

“Nanti saya buat sistem digital marketingnya, kita adakan pelatihan memasarkan produk secara online, dan jika Bapak Ibu tidak punya kemampuan, terus nggak ada  fasilitas untuk itu, ini ada Kadin Kota Bandung.   Kita fasilitasi bagaimana untuk belajar digital marketing / usaha  online, terus kita percepat usaha online tersebut dan dibayar dan difasilitasi oleh uang negara tersebut,” ungkapnya.

“Saya harapkan UMKM dan Koperasi  jangan berpikir standar, berpikirlah out of the box, kedepan koperasi-koperasi yang masuk di program dan bekerjasama disini,   akan kita masukkan kedalam ‘Digikop Bandung’ (digital koperasi) dan itu akan menjadi cikal bakal koperasi digital Indonesia. Kita buktikan koperasi itu bukan jadul, kita buktikan koperasi itu badan hukum yang didalam naungannya banyak individu yang kreatif, kemudian mengembangkan usahanya dan berkreasi didalamnya, kemudian menguatkan ekonomi negara, artinya incomenya pun untuk negara, bukan untuk pribadi,” terangnya.

Kemudian Hardiansyah juga mengatakan “Pengusaha itu harus berani gila”,  berani menerima tantangan, dan kita hidup bukan hanya untuk diri sendiri dan amal jariyah untuk menghidupi orang disekitar kita, niyatkan jariyah, kalau usaha kita mati artinya kita mematikan hidup orang lain juga yang kerja dengan kita, niatnya jariyah.

Pemimpin Redaksi Media Kadin Kota Bandung, Asep Ruslan bersama Hardiansyah (Foto: Asep Ruslan)

“Saya bicara sama Pak Iwa, kita merah putih, jangan sesekali bicara penyimpangan didalamnya, manfaatkan program ini sebenar-benarnya untuk semua pengembangan ekonomi nasional. Kejaksaan mendukung, dan itu amanat Jaksa Agung Republik Indonesia.  Kenapa saya bilang jangan ada penyimpangan, karena suatu saat Bapak Ibu teralisasi terima duit  atas nama koperasi, kalau ada yang minta persentase laporkan ke saya segera.  Saya  dan Pak Iwa sudah merah tidak mau ada persentase didalamnya, mau uang kadeudeuh, mau uang terima kasih, uang apapun, tidak ada dan tidak boleh, sudah sepakat kita.  Ini bukan basa basi kepada Bapak Ibu, kapan lagi Republik ini akan bersih kalau kita nggak gini.  Dan bagi siapapun yang menjual nama Pak Iwa, menjual nama koperasi, menjual nama Saya atau Kejaksaan Negeri, laporkan, kami akan sikat, karena tidak ada jatah tempat bagi orang yang akan menyelewengkan uang negara, manfaatkan sepenuh-penuhnya untuk kesejahteraan masarakat,” tegasnya.

Disampaikannya pula bahwa Ruhnya adalah pemulihan ekonomi nasional.

“Pulihkan ekonomi dengan usaha, usahanya yang realistis, yang terukur, juga usaha itu yang mengembangkan masyarakat sekitar, memberdayakan masyarakat sekitar, lokal Bandung harus hidup. Apabila dikemudian hari UMKM mengeluhkan, usahanya kurang/tidak berhasil, tidak bisa mengembalikan, kebijakan oleh Pak Menteri bayarnya hanya pokoknya saja, bunganya dihilangkan. Negara sudah berpihak kepada UMKM dan Koperasi, sekarang pemerintah sudah baik seperti ini, kalau tidak dimanfaatkan,  berarti bukan pengusaha,” ujarnya.

“Terakhir, komitmen kita dari hari Kamis ini sampai Selasa, siapkan koperasinya, masuk kedalam lingkup koperasinya, siapkan proposal usahanya, sajikan segera dengan ketua Kadin Kota Bandung, kalau ada asistensi ikut , karena saya dan tim akan turun langsung ke Kadin kota Bandung untuk mengasistensi proposal, aprovementnya, kemudian realisasi usahanya dan lain-lain itu akan menjadi analisanya  Pak Iwa,  kami akan berbagi tugas. Kami menyediakan anggarannya membantu Pemerintah Pusat, Pak Iwa membantu pelaksanaan, dan kami akan realisasikan pengajuan itu sesegera mungkin. Harapan kami dana itu harus segera cair, karena tahun ini Bandung harus bangkit dari ketertinggalan dampak pandemi Covid-19, kita semangat, harus siap dan jangan bermimpi tanggung,” ungkapnya.

“Kalau mau mensejahterakan masyarakat memulihkan ekonomi, bukan berpikir standar, tapi berpikir bagaimana 3-5 tahun kedepan usaha ini akan berjalan, bukan bagaimana tahun ini bertahan hidup, tapi bagaimana ini bisa menghidupi sebagian orang disekitar kita, usahanya  bisa hidup, terus kita bisa hidup bersama-sama disitu, dan ekonomi Kota  Bandung akan hidup kembali,” pungkasnya.

Editor: Asep Ruslan

Bagikan melalui:

Komentar