• Selasa, 13 April 2021

KAMIS MANIS NGOBROL BISNIS

"Budgeting dari HPP"

"Budgeting dari HPP" Hendra Saogi Ketua KADIN Kota Bandung, Iwa Gartiwa bersama Narasumber dalam Acara Kamis Manis Ngobrol Bisnis

KADINBANDUNG.COM Para pelaku UMKM Mitra Binaan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Bandung, mendapatkan Pelatihan dengan Tema “Budgeting dari Harga Pokok Penjualan (HPP) dalam Kegiatan Kamis Manis Ngobrol Bisnis, yang diselenggarakan oleh KADIN Kota Bandung, hari Kamis, 25 Februari 2021. 

Acara yang dilaksanakan di Aula Graha KADIN Kota Bandung, Jalan Talaga Bodas No. 31 Kota Bandung  ini diikuti oleh 30 orang para pelaku UMKM dari berbagai daerah se-Bandung Raya dan berbagai bidang usaha, Makanan Minuman/Kuliner, Fashion,  Handycraf dan Jasa,  dibuka secara resmi oleh Ketua KADIN Kota Bandung, Iwa Gartiwa, dengan menghadirkan Narasumber seorang alumni dDesain ITB namun behasil sebagai pengusaha di bidang kuliner, Owner “Nunenasz Healthy Cookies”, Nena Mutmaina.

Ketua KADIN Kota Bandung, Iwa Gartiwa , didampingi oleh jajaran Pengurus, Bambang Tris Bintoro, Wakil Ketua Bidang Koperasi,UMKM dan Kemitraan, Rustam Hutabarat, Komite Tetap Organisasi dan Keanggotaan, serta Bhakti Desta Alamsyah, Komite Tetap Waralaba dan Kemitraan, dalam sambutannya menyampaikan bahwa KADIN masih terus melakukan kegiatan Kamis Manis Ngobrol Bisnis, walaupun dalam kondisi pandemi tapi kita tetap laksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan 3M, Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Mencuci Tangan.

“Acara Kamis Manis Ngobrol Bisnis kali ini merupakan episode yang ke 33, dan kita selalu berusaha dalam berjuang untuk meningkatkan ekonomi UMKM dan Kota Bandung, dan syukur alhamdulillah sepanjang ini peserta masih aman dan kita harapakan semuanya dalam keadaan tetap sehat”, ujar Iwa.

Dikatakan juga  oleh Iwa, “Para pelaku UMKM di Kota Bandung  masih  tetap eksis di masa pandemi covid-19,  para pelaku UMKM  ini merupakan kader-kader dan pahlawan ekonomi karena mampu membuka lapangan kerja, menampung tenaga kerja walupun dalam kondisi yang sulit” , tutur Iwa.

“Saya salut kepada para pelaku UMKM, karena  ilmu yang harus dimiliki oleh seorang pengusaha sudah dimiliki UMKM, UMKM ini juga melakukannya semua sendiri mulai dari masalah marketing, manajemenn pesonalia, lobi-lobi dan lainnya, berbeda dengan pengusaha besar biasanya dilakukan masing-masing tanaga spesialis di bidangnya, jadi kalau boleh dikatakan para pelaku UMKM ini adalah  “Palugada” atau segala ada sagala bisa”, ungkap Iwa.

Ketua KADIN Kota Bandung, Iwa Gartiwa Memberikan Sambutan Pada Acara Kamis Manis Ngobrol Bisnis

Iwa juga menyampaikan Kadin Kota Bandung bekerjasama dengan SMKN 3 Kota Bandung  dan SMKN 9 Kota Bandung  mengadakan program  untuk pendampingan ke UMKM, UMKM akan didampingi oleh siswa-siswa SMK, ada yang ahli pembukuan, ahli kuliner, dan lain-lain, untuk bisa memaksimalkan  produksi UMKM,  atau istilahnya magang.

Disamping itu Kadin Kota Bandung juga kerjasama dengan LIPI , diantaranya jika ada UMKM yang dalam produksinya membutuhkan teknologi untuk menunjang produksi, bisa datang ke Kadin Kota Bandung dan berdiskusi dengan Rustam Hutabarat tentang teknologi terapan yang nantinya dikerjasamkan dengan LIPI.

Iwa berharap UMKM tetap semangat, berjuang dan harus punya keyakinan, karena dengan keyakinan dan usaha,  pasti apa yang kita inginkan bisa diraih, yang penting lagi kita harus punya cita-cita, karena cita-cita adalah do’a, dan  usahakan pikiran kita harus selalu positif thinking, jangan ada suudzon, karena pikiran yang positif akan memperlancar usaha, selanjutnya UMKM harus menjaga brand usaha yang kita miliki”  demikian ungkap Iwa. 

Sementara Nena Mautmaina dalam penjelasan tentang Budgeting dari Harga Pokok Penjualan (HPP) mengatakan, masa kritisnya UMKM itu dapat dilihat pada usia 0-2 tahun, dari 0-2 tahun  itu dapat dilihat usahanya akan sehat atau tidak, sehat itu yang membuat bisnis kita sustain, dasarnya adalah dari menghitung HPP, ujarnya.

Ditambahkannnya, jika kita menghitung HPP benar, maka akan membuat bisnis kita sehat dan berkelanjutan, dengan selalu menghitung HPP, HPJ dan akuntansi yang benar”,  terang Nena

Menurut Nena, tugas pengusaha itu ada 2 hal, yaitu mendatangkan duit dan  harus  bisa mempostingkan uang dimana post-postnya yang tepat”, jelasnya

Selanjutnya dalam menghitung HPP, ada 3 hal yang harus dihitung, yaitu  menghitung bahan baku yang digunakan, kemudian menghitung total biaya produksi yaitu didapatkan dari biaya bahan baku ditambah upah tenaga kerja langsung, ditambahkan biaya bahan penunjang, selanjutnya menentukan harga pokok produksi yaitu total biaya produksi ditambah persediaan barang, ujar Nena.

“Banyak hal UMKM itu rugi bukan karna kebocoan tapi karena rembes, semacam biaya-biaya ojeg, angkutan umum,  yang tidak dicatat dan tidak dihitung, sehingga keuntungan yang diperoleh menipis bahkan rugi”, ungkap Nena.

Editor: Ridwan Kurniawan

Bagikan melalui:

Komentar